X-Steel Pointer

Senin, 14 April 2014

baca cerita lupus online

ULANG TAHUN




ADA seorang teman Lupus. Namanya Pepno SH. Anaknya masih kecil. Sekecil Lupus. Badannya rada kurus. Berkulit hitam, dan berambut agak ikal. Kalau habis berlari-larian ujung hidungnya suka berkeringat. Seperti embun di pagi hari.

Lupus sering bermain-main dengan dia.

Seperti juga kamu, Lupus pertama heran. Kenapa si Pepno ini kecil-kecil sudah punya gelar SH? Nggak taunya itu nama bapaknya: Simin Harjo, yang biasa disingkat SH. Hihihi... lucu, ya?

Nah, sore tadi si Pepno berlarian datang ke arah Lupus yang tengah bersiap-siap pergi mengaji. Ia berbisik, “Pus, besok datang ke rumahku, ya? Aku ulang tahun. Eh, tapi jangan lupa bawa kado dong. Biar balik modal.“

“Ulang tahun?” Lupus bertanya heran. “Ulang tahun apa?”

Ih, Lupus norak, ya? Masa ulang tahun aja nggak tau?

Tapi kalian memang mesti maklum kalau ternyata memang ada anak yang belum tau apa itu ulang tahun. Karena di sebagian keluarga, ada. yang menganggap kalau ulang tahun itu tak perlu dirayakan. Apalagi kalau orang tuanya pelit, seperti bapaknya, si Lupus. Merayakan ulang tahun dianggap pemborosan saja, katanya. Makanya, Lupus nggak apa itu ulang tahun.

Mata Pepno yang bulat dan lucu itu menyipit.

“Ulang tahun apa? Ya ulang tahun saya.” Pepno ternyata bingung juga menjawab pertanyaan Lupus.

“Ulang tahun itu apa?” Lupus masih belum mengerti juga. “Ulang tahun itu adalah tahun yang diulang,” ujar Pepno setengah ragu. Ya, habis bagaimana dia harus menjelaskan. “Kata mama saya, setiap tanggal 21 April itu ulang tahun saya.”

“Lha? Kenapa harus tanggal 21 April?” tanya Lupus. “Tidak tanggal 10 Nopemnber atau 32 Januari saja?”

“Tau tuh. Mama sukanya tanggal 21 April sih. Gitu aja, Pus. Jangan lupa besok sore. Dadaaah. ...”

“Eh, tapi dijemput, ya?”

***

Pulang mengaji, Lupus mendapatkan ibunya sedang asyik mengobrol dengan Tante Ani, tetangga sebelah. Menjelang magrib, kala urusan rumah tangga sudah diselesaikan semua, ibu Lupus sering duduk-duduk di taman mengobrol dengan tetangga sambil minum teh. Bapak sih jarang ikutan nimbrung. Kerjaannya sepulang­ kantor tidur melulu.

“Dulu, anak saya si Lulu, suka sekali mengisap jempolnya, Jeng. Tapi sekarang sudah tidak lagi,” ucap ibu Lupus sambil menuangkan teh buat Tante Ani. Lupus yang bandel, sempat juga menguping dari balik pohon asoka.

“O ya? Bagaimana cara mengatasinya, Jeng?”

“Mudah saja, Jeng. Jempolnya, suka saya beri yang pahit-pahit. Jamu, misalnya.”

“Lalu, setelah itu bagaimana reaksinya, Jeng?”

“Sekarang, ia mengisapi jari kelingkingnya.“

Hihihi... Lupus tak bisa menahan ketawanya. Ini jelas membuat ibu Lupus berang. “Hayo, Lupus! Sudah berapa kali Ibu bilang, jangan suka mencuri dengar pembicaraan orang tua!”

Lupus keluar sambil tertawa-tawa kecil.

Dan dia segera bilang ke ibunya bahwa besok ia diundang ke. Ulang tahun Pepno.

“Ulang tahun yang keberapa?” tanya Ibu.

Wah, keberapa, ya? Lupus bingung. Soalnya dia tak tanya tadi. “Eeeng... suit sepentin kali, Bu!”

Ah, Masa sweet seventeen? Ibunya tak percaya. Ibunya berkata, kalau tak salah Pepno lahir berbarengan dengan pohon pisang yang ditanam Bapak di kebun belakang.

“Wah, jadi si Pepno ­udah tua dong, Bu,” ujar Lupus heran. Ya, karena pohon pisang yang dimaksud Ibu itu sudah reot. Pelepah pisangnya sudah berwarna cokelat. Disentil juga roboh.

“Pepno lain dong dengan pohon pisang. Pohon pisang memang cepat besar dan tua. Tapi Pepno kan tidak,” jelas ibunya.

“Oo... mungkin karena Pepno jarang disiram dan diberi pupuk ya, Bu?” simpul Lupus.

Yah, mungkin sekarang Pepno umurnya sama dengan Lupus. Tujuh tahun. Sekarang, Lupus pun mengira-ngira, kado apa yang cocok buat Pepno.

“Eh, gimana, Bu, kalo beli buku tulis saja buat kadonya Pepno?” usul Lupus.

“Ah, jangan. itu terlalu murah. Lebih baik potlot aja!”

Tapi ternyata Pepno tidak cuma mengundang Lupus. Lulu pun sudah diberi tahu. Pepno juga berpesan agar Lulu membawa kado.

Lulu mengusulkan agar Pepno diberi boneka saja.

Lupus jelas menolak. “Pepno kan anak laki-laki. Masa mau dia diberi boneka?”

“Kalo dia nggak mau, kan bica buat Lulu aja. “

Pertengkaran Lupus dan Lulu sebetulnya bakalan seru. Tapi Ibu buru-buru melerai. Ibu cuma mau membelikan satu kado saja. Dan akhirnya diputuskan, Pepno akan dibelikan pistol-pistolan air saja

***

Sorenya pistol-pistolan air yang cukup unik itu siap dibungkus. Sebelum dilapisi kertas kado yang cantik, Ibu membungkusnya dengan beberapa kertas koran.

“Kenapa mesti begitu, Bu?” tanya Lupus.

“Biar kelihatan besar. Nanti kan Pepnonya senang.”

Pistol-pistolan air itu memang jadi kelihatan besar sekarang. Apalagi setelah dibungkus kertas kado yang bermotifkan warna-warni. ­Jadi kelihatan tambah cantik. Wah, si Pepno pasti senang.

Tapi, astaga! Pistol-pistolan ini belum dicoba. Lupus cemas. Ya, bagaimana kalau ternyata pistol-pistolan air ini macet? Bisa malu dong. Kok ngasih hadiah nggak bisa dipakai?

Maka diam-diam Lupus pun membuka kado yang udah terbungkus rapi itu. Gulungan koran yang membuatnya gemuk, kini berserakan di lantai. Lupus tak peduli. Yang penting pistol ini mesti dicoba dulu.

Setelah dibuka, pistol air itu diisi air. Dan ditembakkan ke arah pot-pot bunga. Kadang-kadang, rambutnya pun dibasahi oleh pistol-pistolannya itu. Lupus senang, berarti pistol mainan ini tidak macet.

Lagi asyik-a­yiknya mencoba, Ibu datang. Ibu habis membeli pita. Untuk kado dan untuk rambutnya Lulu. Biar kedua-duanya cantik.

Jelas saja Ibu ngomel melihat ulah Lupus.

“Aduh, Lupus. Kenapa kadonya dibuka begitu?”

“Habis tadi belum dicoba, Bu. Lupus khawatir kalo pistol-pistolan ini macet.”

Ibu akhirnya membungkus kado itu lagi. Cuma kali ini ditambahi pita biar cantik.

Kado ini ternyata tidak mau kalah saingan sama rambut Lulu yang senantiasa berpita. Lupus pun ikut-ikutan meminta dipakaikan pita. Tapi Ibu melarang. Lupus nekat. Ia mengambil kaset dan mengeluarkan pitanya yang panjang. Kemudian digulungkan ke rambutnya. Lupus ternyata juga tak mau kalah saingan.

“Hihihi... pitaku lebih panjang!”

***

Sore itu di rumah Pepno sudah ramai. Banyak juga temannya yang datang. Pepno memang mengundang semua teman-teman mainnya.

Rumahnya sendiri tampak semarak. Dihiasi balon-balon, kel tas Warna-warni, dan juga kue tart besar berlilin tujuh yang begitu menarik perhatian Lupus.

Pepno memakai baju baru. Warnanya merah, dan dimasukkan ke dalam celana panjangnya yang juga baru. Pepno jadi kelihatan ganteng. Kayak sekoteng.

Tapi perhatian Lupus tetap tak lepas dari kue tart besar yang dilapisi cokelat itu. Oi, pasti enak sekali rasanya. Lebih enak dari kue bikinan Ibu. Ah, mudah-mudahan saja kue itu tidak hanya sekadar buat pajangan.

Selanjutnya acara dibuka dengan nyanyi-nyanyi bersama. Sambil bertepuk tangan meriah. Kadang anak-anak bernyanyi saling adu cepat. Mungkin dengan harapan yang duluan selesai nyanyi bakal segera mendapat potongan kue tartt.

Kemudian disusul dengan acara-acara menarik. Di antaranya seperti mengoper gelas yang diisi air, sambil diiringi musik. Bila gelas itu berada di t1ngan seorang anak dan bersamaan dengan matinya musik, berarti anak tadi mendapat hukuman. Boleh nyanyi, boleh baca puisi. Boleh juga berjoget sepuas hati.

Mereka kelihatan suka dengan permainan itu. Kecuali Lupus Ia cuma berharap agar jadwal pemotongan kue tart itu dipercepat saja. Rasanya lezatnya kue itu sudah sampai di lidah saja. Oi, pasti enak sekali. Lupus sama sekali tidak memperhatikan permainan oper-mengoper gelas. Maka ketika ia mendapat gelas berisi air yang semestinya diserahkan ke teman di sebelah, Lupus malah meminum airnya.

Anak-anak pada terheran-heran.

Lupus pun terpaksa dihukum. Pilihan hukumannya, baca puisi.

Tanpa ragu, Lupus pun membacakan puisi karyanya sendiri,

“di laut sudah pasti ada iar

di air belum tentu ada laut

di rumah sudah pasti ada pintu

di pintu belum tentu ada rumah

di meja sudah pasti ada sepotong kue

dan kuenya belum tentu dipotong...”

Anak-anak bertepuk riuh. Akhirnya saat yang mendebarkan bagi Lupus pun tiba, Pepno memolong, kue tart jadi beberapa bagian. Potongan pertama untuk maminya, kedua untuk papinya, ketiga untuk adiknya, keempat untuk kakaknya, kelima untuk neneknya, keenam untuk kakeknya....

“Lha, untuk saya mana, ya?” pikir Lupus cemas.

Lupus khawatir kalau-kalau kue itu memang buat keluarga Pepno saja. Wah, bisa gawat nih! Lupus sebel, kenapa tuan rumah kadang cuma menyediakan kue yang mahal-mahal untuk pajangan ­aja? Bukan untuk dibagikan pada tamunya.

Tapi ternyata dugaan Lupus meleset. Kue tart itu juga dibagikan kepada teman-teman yang lain. Tentu termasuk Lupus. Lupus mendapat bagian yang lebih besar. Karena baca puisinya bagus. Lupus sangat girang sekali. Dia memakan sedikit demi sedikit. “Biar enaknya lama.”

Tapi kapan ya, bisa makan kue enak lagi? Lupus pun merenungi. Hingga kemudian dia bangkit menghampiri maminya Pepno dan membisiki, “Tante, bagaimana kalo ulang tahunnya Pepno tiap seminggu sekali aja, Tante?”



5 Ke Sekolah

PAGI-PAGI sekali Lupus sudah bangun. Maklum, kalau tidak bangun pagi-pagi, dia bisa terlambat pergi ke sekolah. Dan kalau sampai terlambat ke sekolah, Lupus bisa kena setrap. Kalau sampai kena setrap, Lupus bisa disuruh berdiri di pojokan kelas sepanjang pagi. Kalau sampai disuruh berdiri di pojokan kelas, Lupus bisa malu. Kalau sampai malu... ah, makanya, Lupus lebih baik tidak terlambat ke sekolah.

Tapi sebetulnya, Lupus masih suka dibangunkan ibunya daripada bangun sendiri. Pernah sesekali Lupus berpesan pada ibunya agar jangan dibangunkan. Akibatnya Lupus baru bangun ketika jam dinding di rumahnya berdentang sembilan kali. Makanya Lupus hingga sekarang lebih suka dibangunkan saja. Lupus sendiri heran, kenapa dia susah bangun pagi. Padahal menurutnya, dia tidak pernah tidur terlalu larut. Paling-paling jam sembilan dia sudah masuk kamar. Cuma, ya di kamar dia suka keasyikan baca buku cerita hingga larut malam.

Kegiatan Lupus setiap pagi selain bangun tidur, biasanya ngulet-ngulet sedikit. Tau ngulet, kan? itu lho, senam gaya ulet. Ya, habis senamnya kan di tempat tidur. Lupus kadang juga suka lari pagi. Berkeliling-keliling kompleks perumahan sebanyak satu kali. Larinya kadang-kadang pelan, kadang-kadang cepat Lupus suka lari cepat kalau kebetulan dikejar sama anjing tetangga yang galak. Setelah lari pagi, biasanya Lupus mandi. Tak lupa sikat gigi, kalau kebetulan ditunggui Ibu. Habis itu handukan. Yah, terpaksa handukan ini diharuskan jadi kebiasaan. Karena Lupus setelah mandi suka lupa handukan. Masih basah kuyup, langsung pakai baju seragam. Kan jadi basah semua, ya, bajunya. Setelah urusan mandi selesai, Lupus sarapan. Untuk sarapan ini tak biasa makan nasi. Tapi cukup lontong sayur saja. Tapi kadang-kadang, dia juga makan roti.

Sehabis makan roti, biasanya masih ada sedikit waktu untuk sekadar mengobrol dengan adiknya Lulu, atau dengan ibunya yang sedang mengolesi roti buat Bapak di meja makan.

“Bu, semalam Lupus mimpi dikejar-kejar raksasa. Uh, tegang deh. Lupus lari sekuat-kuatnya,” celoteh Lupus seru.

Ibunya memandang sebentar. Lalu dengan pelan berujar, “O, pantas kasurmu basah semua. Mungkin itu cucuran keringatmu, ya, Pus,” sindir ibunya menahan tawa.

Lulu sudah cekikikan saja di ujung meja. Ih, ketauan. Lupus pasti ngompol. Lupus memang paling bisa berdalih kalau dia ketauan ngompol. .

Tapi Lupus pura-pura tak mendengar sindiran ibunya. Dia malah mengalihkan pembicaraan. “Eh, tapi kemarin Lupus di sekolah dapat hapusan potlot. Bagus deh, Bu. Bentuknya seperti mobil-mobilan. Wangi lagi....”

“Ah, kamu dapat nyuri, ya?” sergah ibunya ketika Lupus menunjukkan penghapus barunya.

“Enggak, Bu.”

“Kamu dapat dari mana?”

“Dapat nemu di tempat pinsilnya Pepno yang sedang terbuka, Bu. Bagus, ya?”

Dan Lupus pun langsung melompat turun dari kursinya ketika ada suara teman memanggil.

“Lupus berangkat, Bu, Pak. Sampai ketemu nanti siang, ya?”

“Lupuuuus, penghapus itu...”

Ibunya berusaha menahan, tapi Lupus sudah berlarian menyambut teman-temannya.

***

Si Pepno, teman Lupus yang baru berulang tahun itu, kebetulan juga sekelas dengan Lupus. Tapi herannya, tiap hari Pepno selalu terlambat tiba di sekolah. Sampai guru-guru sudah bosan menghukumnya.

Lupus suka heran. Apa di rumahnya Pepno sulit dibangunkan kalau pagi hari? Kalau memang sulit, Lupus punya cara yang tepat untuk membangunkan anak nakal di pagi hari. Banjur saja dengan seember air dingin. Atau kalau cara itu dirasakan repot, karena akan membuat kasur basah, getok aja kepala si anak itu dengan batu bata. Wah, pasti dia akan lekas bangun.

Ah, tapi mungkin saja maminya Pepno tidak sampai hati melakukan itu. Karena Pepno memang agak disayang. Jadi mana mungkin maminya mau membangunkan dengan cara itu.

Jadi harus dicarikan cara lain. Misalnya dengan ­memasang jam weker tepat pukul enam pagi.

“Tapi, sebetulnya kenapa sih kamu suka terlambat?” tanya Lupus penasaran.

“Sebetulnya bukan salah saya, Pus,” ujar Pepno. “Yang salah gurunya.”

“Lho, kok gurunya?”

“Abis mereka datang terlalu cepat sih....”

Lupus bengong. Ah, masa iya?

Iya, kata Pepno. Dan Lupus tak percaya. Sama seperti tak percayanya Lupus pada cerita-cerita Pepno yang lainnya. Kalau duduk sebangku di kelas, Pepno memang suka cerita macam-macam. Tentang kucingnya yang katanya bisa menghilang, tentang kelincinya yang bisa berbicara.

Tapi Lupus tak pernah percaya.

Pagi ini pun, nampaknya Pepno mulai mau bercerita lagi.

“Pus, semalam aku ditinggal di rumah sendirian. Habis, Papi sama Mami pergi ke dokter mengantar adikku. Aku nggak takut, Pus. “

“Ah, aku tak percaya, Pep,” ujar Lupus seperti biasanya.

Pepno mulai sibuk meyakinkan. “ Aku betul-betul sendirian di rumah, Puso Hanya bibiku saja di dapur, Mang Iip di ruang tamu, Mbok Minang di serambi, dan kakekku di kamar. Aku lunya sendirian nonton tipi, Pus.... “

Lupus cekikikan.

Dan di samping Pepno, Lupus juga punya temen yang lucu. Namanya Uwi. Kata Lupus, Uwi ini mukanya kayak belalang. Panjang dan lancip. Tapi Uwi bilang, Lupus kayak marmut. Gemar merengut. Kalau sudah main ledek-ledekan begitu, Lupus dan Uwi cuma ketawa bareng.

Lupus suka Uwi, karena anak perempuan nakal ini sebenarnya cerdas. Paling asyik diajak main tebak-tebakan. Waktu ulang tahun Pepno, Uwi ngasih kado pulpen mungil satu biji yang dilapisi berlapis-lapis koran hingga kadonya kelihatan besar. Di dalamnya, ada juga batu kerikil, biar agak berat.

Pepno sampai frustasi waktu buka kado Uwi. Dikira di dalamnya ada robot-robotan, “atau pesawat tempur, nggak taunya cuma pulpen yang mungil.

Di dalam kadonya, ada sederetan kalimat ucapan ulang tahun buat Pepno, disertai kata mutiara yang lucu. “Jangan memandang keikhlasannya, tapi pandanglah. .. harganya.”

Lupus sampai terpingkal-pingkal ketika diceritai.

Ketika turun main, Lupus sering asyik belajar bersama Uwi. Biasanya jadi sembarangan, karena kedua anak itu memang ajaib. Biasanya Uwi yang membacakan dari buku, sambil memandangi buku bergambar. Sedang Lupus asyik memasukkan roti bekal Uwi ke dalam mulutnya hingga habis tak bersisa.

“Ikan bernapas dengan apanya, Pus?” ujar Dwi.

Lupus berpikir sejenak. Lalu sambil mengunyah roti, dia menjawab, “Dengan insang.”

“Ya, betul. Kalo ular, Pus?”

“Ular? N­g... dengan kulitnya!”

“Seratus! Kalau gajah bernapas dengan...?”

“Hidungnya!”

“Salah!”

“Kupingnya!”

“Salah!”

Lupus menelan potongan roti yang terakhir. “Jadi dengan apa?” tanyanya sambil memandang ke arah Uwi.

“Gajah bernapas dengan... teman-temannya!” ujar Dwi sambil menyembunyikan mukanya menahan tawa di balik buku bergambar. “Hihihi... iya, kan? Mereka selalu bergerombol. “

Lupus keki. Lalu sambil menutup kotak tempat kue Uwi yang sudah kosong, dia berkata, “Kalau kodok bernapas dengan...?”

“Dengan paru-paru!” jawab Uwi.

“Salah, Wi. Kodok bernapas dengan... izin Tuhan. Hihihi.”

Pepno pun datang meramaikan suasana.

“Bulu apa yang bisa marah?” kata Pepno.

“Bu Lurah,” jawab Dwi.

“Bulu apa yang bisa nangkis?”

“Bulu tangkis.”

“Bulu apa yang paling jelek?”

“Bulu ketek.”

“Bulu apa yang paling jauh?”

“Bulu roma... ibu kota Itali.”

“Bulu... ng, apa lagi, ya?” Pepno berpikir.

“Ini, Pep,” celetuk Lupus, “bulu apa yang mirip kamu, Pep?”

“Apa, ya?”

“Bulukan. Hihihi....”

Bel masuk pun berdentang lantang. Kelontang-kelonteng.



6. Membantu Lulu Makan

SETIAP pulang sekolah, Lupus masih sering dijemput. Sebetulnya letak sekolah Lupus tak begitu jauh dari rumah Lupus. Hanya beberapa kali napas, sudah sampai Tapi kalau tak dijemput, Lupus bisa petang hari baru sampai rumah. Alasannya belajar bersama atau bersama-sama nonton video.

Seperti pada hari, ibu Lupus sedang kelewat repot hingga tak sempat menjemput. Ditunggu-tunggu anak bandel itu belum juga kelihatan batang hidungnya. Ibu Lupus jelas bingung. Sibuk nyari-nyari di tong sampah, di kandang ayam tetangga, di atas pohon jambu, tak juga ketemu. Pergi ke mana lagi anak ini? pikir ibu Lupus bingung. Baru ketika ibu Lupus hendak mencari dan bertanya pada teman sekolah Lupus yang dekat tukang gado-gado, tiba-tiba Lupus kelihatan sambil berjalan terseok-seok. Baju seragamnya sudah tak lagi putih warnanya. Ada bercak-bercak cokelat, kayak lumpur. Sepatunya juga. Uh, ibu Lupus pun hampir lupa pada warna asli tu sepatu. Sebab kini sampai ke kaus kaki, berwarna cokelat semua. Wah, pasti Lupus habis main di comberan.

Memang betul. Meski tidak di comberan, Lupus habis berkotor-kotoran. Dia habis main bola di lapangan dekat kali yang tiap habis hujan selalu berkubang. Sebetulnya memang sudah tak pantas bila disebut lapangan. Tapi kalau mau disebut kolam renang, tak ada yang jaga karcis di sana. Meski begitu, Lupus dan teman-temannya sangat senang bermain bola di lapangan itu. Malah bila suatu ketika lapangan itu kering saat musim kemarau, Lupus tak mau main. Alasannya nggak seru. Nggak bisa ber-ski air.

“Lupus, dari mana saja kamu! Lihat, tubuhmu penuh lumpur!” begitu ibu Lupus selalu menghardik, jika Lupus berbuat salah.

“Sa... saya abis belajar bersama, Bu,” ujar Lupus sambil menundukkan kepala. Tas sekolahnya yang juga dekil, didekap erat-erat, seolah takut ketauan.

“Belajar apa sampai kotor-kotoran begitu!”

“Belajar main bola, Bu.”

“Main bola? Ya, tapi kan main bola tak perlu di lumpur. Lagi pula kamu belum ganti baju, belum makan siang, belum tidur siang.”

“Saya main bola nggak di lumpur kok, Bu.”

“Lha, itu. Kenapa bajumu penuh lumpur?”

“Bukan salah saya, Bu. Salah lumpurnya. Kenapa dia berada di lapangan bola. Seharusnya dia berada di sawah....”

“Sudah. Ayo pulang!” hardik ibunya sambil menggamit lengan Lupus.

Itulah, makanya ibu Lupus lebih suka meluangkan waktu untuk menjemput Lupus, daripada mengkhawatirkan anak itu selalu. Dan seperti anak-anak lainnya juga, sampai di rumah Lupus dan Lulu setiap pulang sekolah pasti disuruh menukar pakaian seragam. Tapi, sekali lagi. Lupus selalu tak mau. Dia bilang dia mau mengulang pelajaran dulu. Kalo belajar, mesti memakai baju seragam. Tidak enak belajar pakai baju rumah. Tak sopan, ujar Lupus. Biar malam hari pun bila ingin mengerjakan pekerjaan rumah, Lupus senantiasa memakai seragam sekolahnya.

Menghadapi anak macam Lupus memang mesti sabar. Begitu juga dengan ibu Lupus. Kadang dibiarkan keinginan Lupus yang aneh-aneh sejauh hal itu terasa tak merugikan perkembangannya. Toh biar suka aneh-aneh, Lupus pun punya kebiasaan yang baik juga. Misalnya saja dalam hal makan. Dia paling gampang disuruh makan, tidak seperti anak lainnya. Walau badan Lupus kecil, namun nafsu makannya lumayan gede. Jadinya nggak penyakitan. Riang selalu.

Pulang sekolah, Lupus selalu makan (kalau kebetulan tidak main bola). Agak siang sedikit, makan. Sore hari, makan juga. Malamnya sebelum bikin pe-er, makan lagi. Kalau ngantuk kepengen tidur, sebelumnya mesti makan. Kalo yang ini nggak mesti nasi, lontong pun Lupus mau. Akibatnya, bapak Lupus yang suka keasyikan baca koran, tak kebagian makan malam lagi.

Tapi si Lulu justru agak sedikit susah bila disuruh makan. Seperti siang itu, sepulang sekolah. Lupus sudah selesai makan, tapi Lulu kelihatan seperti malas untuk menyentuh nasi perkedelnya. Malahan asyik bermain dengan boneka pandanya. Kalo ada Ibu, Lulu lebih suka disuapi. Tapi kini Ibu sedang kedatangan tamu. Penting agaknya. Terpaksalah Lulu disuruh makan sendiri.

Lupus yang sedang santai baca buku cerita, jadi memandang adiknya dengan heran. Makan kok nggak mau, apa susahnya sih? pikir Lupus. Apa perlu dibantu? Yah, kata Ibu Guru, orang hidup mesti tolong-menolong. Dengan begitu, lebih mudah untuk menyelesaikan satu pekerjaan. Makan kan juga termasuk pekerjaan juga. Maka harus dibantu. ­Otak Lupus berpikir cepat. Lalu dia pun mulai membantu Lulu. Mula-mula Lupus membantu menghabiskan perkedelnya. Lulu melihat itu malah senang. Tapi Lupus terus asyik. Ia terus menyuapi mulutnya sendiri, hingga piring Lulu bersih tak bersisa.

Karena kenyang, Lupus pun tidur-tiduran di kolong meja Wajahnya ditutupi buku cerita. Dan lama-kelamaan Lupus jadi tidur beneran. Sebab perutnya benar-benar kegendutan.

Ibu Lupus melihat piring Lulu kosong, jadi senang. Tapi sekaligus heran. Kok tumben Lulu bisa habis makan sendiri.

“Lulu, kamu makan sendiri, ya? Pintar kamu, Lu,” ujar Ibu tersenyum.

Lulu acuh tak acuh saja. Dia malah sibuk membelai bonekanya. Kini boneka jadi anak-anaknya, dan Lulu jadi ibunya. Lulu berusaha menidurkan anaknya sambil berdendang kecil.

Rasa penasaran masih menyelimuti benak Ibu. Kemudian sekadar memenuhi rasa curiganya, ia pegang perut Lulu. Lho, kok masih kosong kempes.

“Lulu, kamu sudah makan, belum?”

Dengan santai Lulu menggeleng.

“Lalu, siapa yang menghabiskan nasimu?” desak Ibu.

“Ssst... Ibu jangan libut, ya. Nanti anak Lulu bangun,” bisik Lulu sambil meletakkan telunjuknya di bibir.

Tapi ibu Lupus seperti sudah menemukan jawaban atas misteri ini, ketika melihat Lupus dengan santainya tidur di kolong meja. Di sekitar mulutnya, masih ada nasi yang tersisa. Buku cerita yang tadi menutupi wajah, terjatuh ke samping.

Ibu Lupus tersenyum, sambil membersihkan sisa nasi dan perkedel yang mengotori baju Lupus. Dipandangnya wajah Lupus lama-lama. Anak itu seperti tersenyum membalas.

“Ah, Lupus.... Lupus...,” desah ibu Lupus panjang. Kemudian bergegas menyiapkan makan siang buat Bapak.



7. Ke Toko

LULU besok ulang tahun. Baru yang keenam. Tapi ­ulu ingin hari jadinya itu dirayakan, seperti ulang tahunnya Pepno. Sebetulnya, Bapak memang kurang setuju. Karena dengan begitu, Bapak harus mencari uang tambahan untuk pesta ulang tahun Lulu. Tapi Lulu memaksa, didukung sepenuhnya oleh Lupus, yang berharap bisa makan kue tart enak lagi. Dan bagi Bapak, perang melawan dua anaknya yang bandel-bandel itu lebih mengerikan daripada perang melawan kantuk. Anak itu kompak berdemonstrasi ribut-ribut tiap sore, sehingga Bapak tak dapat lagi tenang-tenang membaca koran.

Maka, terpaksalah Bapak mengabulkan permintaan Lulu. Yah, sekali-sekali boleh dong ulang tahun itu dirayakan. Dan untuk itu, ibu Lupus mesti pergi ke toko membeli kue-kue dan kado buat Lulu.

Tiap ulang tahun, orang-orang yang berada atau datang ke rumah Lulu, selalu dimintai kado. Kalo ternyata karena sesuatu hal si orang itu tak bawa kado, maka dianggap utang. Di lain waktu, walau sudah lewat sebulan, Lulu masih rajin menagih. Makanya daripada repot-repot mendengar rengekan Lulu, Ibu lebih baik membeli kado saja.

Karena Lupus juga sejak kemarin dipaksa Lulu untuk beli kado, maka Ibu pun mengajak Lupus pergi ke toko. Tokonya cukup jauh dari rumah. Lupus, harus naik. bis kota segala. Jalan juga bisa, tapi lama. Kira-kira dua hari baru sampai. Maka itu lebih baik naik bis kota saja. Lagi pula bis kota itu murah meriah kok. Bayarnya murah dan isinya meriah. Ada bapak-bapak, ibu-ibu, kakek-kakek, nenek-nenek, pokoknya macam-macam deh. Kamu tinggal pilih, mau yang mana.

Dan Lupus itu paling suka kalo diajak naik bis kota. Dia selalu pilih dekat jendela. Biar bisa melihat pemandangan dan bisa ber-dada-dada, melambaikan tangan.

Makanya Lupus langsung sibuk berdandan ketika Ibu mengajaknya pergi ke toko. Hatinya girang sekali. Sambil bersiul-siul riang, dia memakai sepatu, kemeja, dan tak lupa jam tangan mungilnya. Tapi rambutnya tak mau disisir. Biar bisa kena angin dari jendela bis kota. Kan sayang kalau disisir, jadi mubazir pikirnya.

Tapi sayang, bis yang ditumpangi Lupus itu penuh sesak. Jadinya tak bisa leluasa memilih tempat duduk di dekat jendela. Lupus menyesal, kenapa tadi tidak membawa jendela dari rumah saja, ya? Biar penuh kan bisa tetap dekat jendela. Bisa angin-anginan.

Tak lama kemudian, akhirnya mereka sampai ke tujuan. Lupus masih diliputi penyesalan. Tapi segera hilang ketika di depannya terlihat keramaian yang amat sangat. Ada anak kecil tujuh orang bergandengan tangan, ada penjual obat yang ribut menawarkan dagangannya, ada tukang rokok yang mondar-mandir ke sana kemari, atau puluhan kemeja yang tergantung, bergoyang-goyang ditiup angin. Ya, toko itu memang berada di pusat kota. Selain ada toko yang menjual kue-kue, ada juga yang menjual baju, celana, mobil-mobilan, motor-motoran, anak-anakan, ibu-ibuan, bapak-bapakan....

Ibu sambil menggandeng lengan Lupus, menuju toko yang menjual kue-kue. Tapi sebelumnya, Ibu sempat tertarik pada penjual jepit jemuran di pedagang kaki lima. Pedagang kaki lima itu adalah pedagang yang kakinya li... eh, dua. Tapi barang dagangannya cukup digelar begitu saja. Tanpa diselimuti. Kasihan ya, kan nanti bisa masuk angin. Kalau sudah masuk angin, baru deh si pedagang itu sibuk mengeroki barang dagangannya. Sebab walau bagaimanapun juga, barang dagangan yang sakit kan tak bisa dijual.

Nah, Ibu sekarang sedang tertarik dengan penjepit jemuran tersebut. Ibu berniat membeli beberapa buah, supaya kalau lagi menjemur pakaian, tidak perlu lagi bersibuk-sibuk-ria mengejar jemurannya. Sebab sering ada angin nakal yang bertiup kencang dan membawa terbang jemuran Ibu yang sudah kering. Pakaian memang biasa dijemur Ibu di lapangan bulu tangkis di samping rumah. Sehingga Lupus yang hobi main bulu tangkis, pernah dengan kesal berkata kepada temannya, si Pepno, “Kamu pikir, Pep, apa kegunaannya Bapak membangun lapangan bulu tangkis di halaman samping rumah?”

“Memangnya apa? Untuk main bulu tangkis, kan?”

“Bukan. Untuk Ibu menjemur kasur secara massal!”

Dan Ibu kalo membeli sesuatu tak pernah menawar. Cuma menyarankan agar barang itu dijual murah saja. Seperti dengan penjual jepit jemuran itu. Harganya seribu rupiah, tapi disarankan agar dijual tiga ratus saja. Penjualnya tak mau. Ibu pun tak mau juga. Tapi ketika disarankan lima ratus, baru ada kesepakatan. Kemudian Ibu pun membayar, setelah sebelumnya tak lupa mereka berjabatan tangan atas kesepakatan yang telah diambil.

Selanjutnya Ibu terburu-buru melanjutkan perjalanan, yaitu ke toko kue. Tapi ­apa yang terjadi? Ibu Lupus berpikir, sepertinya ada yang ketinggalan. Tapi apa, ya? Ibu kebingungan setengah mati. Seluruh isi tasnya diperiksa. Dompetnya ada, sapu tangan ada, sisir juga ada. Lalu di depan etalase kaca, Ibu berkaca. Diamati seluruh tubuhnya. Dari ujung sepatu sampai ujung rambut. Semua komplet. Tak kurang suatu apa pun. Lantas, apa yang ketinggalan?

Seorang satpam yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku Ibu, akhirnya datang menghampiri. “Selamat siang, Bu. Ada yang bisa saya bantu? Apa Ibu kecurian?”

“Oh, selamat siang. Tidak-saya tidak kecurian. Tapi bisakah Bapak membantu saya?”

“Dengan senang hati, Bu. Nah, ada apa?”

“Saya mau tanya, Pak. Apakah ada sesuatu yang ketinggalan pada diri saya?” tanya Ibu.

Satpam itu jelas bengong. Ibu Lupus dongkol. Katanya mau membantu, masa ditanya begitu saja bengong?

Astaganaga! Ibu baru ingat. Ya, ampun, anakku. “Lupus! Lupus!” Ibu berteriak-teriak, berlari-lari. Tak peduli orang-orang yang memandang heran ke arahnya. Ibu kembali ke tukang penjepit jemuran. Alhamdulillah, Lupus masih ad di situ. Ibu lupa, kalau ternyata dia itu pergi bersama anaknya tercinta. Gara-gara terlalu girang karena telah mendapat penjepit jemuran, jadi lupa menggandeng anaknya.

Ketika dilihat Lupus masih segar-bugar tak kurang suatu apa. Ibu langsung memeluknya. Menciumnya. Mirip film Indonesia. Tapi Lupus sendiri biasa-biasa saja. “Lupus cuma mau menguji, lebih berharga mana, penjepit jemuran atau Lupus,” bisik Lupus pada Ibu.

Ibu tersenyum.

Tapi, ngomong-ngomong soal penjepit jemuran, Ibu jadi ingat kembali dengan penjepit jemurannya yang ditinggalnya di muka toko kue. Wah - jangan-jangan nanti hilang?

“Lupus, kamu tunggu di sini sebentar, ya? Penjepit jemuran Ibu ketinggalan!” ujar Ibu sambil bergegas kembali ke toko kue, meninggalkan Lupus yang terbengong sendirian.

Lupus cuma nyengir. Ya, ternyata dua-duanya penting. Ibu juga nggak mau dong kehilangan penjepit jemurannya!
BALADA DI SMANSAGRA


Narrator     : Suatu pagi yang cerah gulita, sekitar jam 7 pagi di Smansagra. Ada seorang guru bernama Kabeb yang sedang menggerutu tak keruan, karena sudah jam masuk sekolah anak yang ada di kelas baru satu orang yaitu Kukuh. Jelas saja yang lain tidak di kelas karena ini am masuk sekolah bukan jam masuk kelas.
Kabeb         : “Sudah jam 7 begini anak yang sudah datang baru satu orang. Sekolah macam apa ini, kemarin anak-anak suda saya suruh tiba di sekolah jam 6 pagi. Alhasil mereka sudah tiba di sekolah jam 6 pagi esok harinya. Tapi jam 7 bel berbunyi mereka malah pulang.”
Kukuh         : “Mungkin mereka sedang dalam perjalanan pak.”
Kabeb         : “Rumah mereka itu dekat, harusnya sudah sampai. Dulu rumah saya jaraknya dari sekolah 20km, tapi setengah jam saya sudah sampai.”
Kukuh         : “Wuihh, cepat sekali. Naik apa pak?”
Kabeb         : “Saya jalan kaki lahh. Setengah jam sudah sampai, sampai depan rumah. Sampai sekolah setengah hari.”
Kukuh         : “Hmm saya kira setengah jam sudah sampai sekolah.”
Ingil              : (mengetuk pintu) “Assalamualaikum.. maaf pak terlambat.”
Kabeb         : “Waalaikkum salam, kenapa kamu telat?”
Inggil           : “Sebenarnya tadi jam 6, saya itu sudah sampai sekolah pak.”
Kabeb         : “Terus, kenapa tidak langsung masuk kelas?”
Inggil           : “Tadi kelasnya itu saya cari tidak ada pak.”
Kabeb         : “Kok bisa?”
Inggil           : “Ternyata saya salah sekolah pak. Saya malah masuk ke SMA terbuka.”
Kabeb         : “Ah bohong kamu, di sekitar sini tidak ada SMA terbuka.”
Inggil           : “Oh ada pak, jadi SMA-nya itu masih tanah lapang dan belum dibangun. Itu  namanya Sma terbuka”
Kabeb         : “Halah, pusing saya ngomong sama kamu. Sana duduk.”
Inggil           : “Terimakasih pak.” (duduk disamping Kukuh)
Kabeb         : “Jadi anak-anak, kita mulai saja pelajarannya.”
Bayu            : (mengetuk pintu) “Halo ada orang?.”
Kabeb         : “Huuhhh, ini siapa lagi yang telat... ooh ternyata kamu Bayu. Kenapa kamu telat?”
Bayu            : “Tadi saya minum dulu pak.”
Kabeb         : “Cuma minum kok bisa telat?”
Bayu            : “Karena agar pencernaan saya sehat, minumnya saya kunyah dulun 32 kali agar lembut pak. Dan semakin lama karena saya minumnya satu gentong pak.”
Kabeb         : “Yang dikunyah agar lembut itu makanan, minuman tidak uash dikunyah sudah lembut. Dan biar lebih lembut pas kamu minumanny kamu campur downy.”
Bayu            : “Downy melembutkan pakaian pak bukan minuman. Nanti kalau saya minum malah saya yang jadi lelembut.”
Kabeb         : “Ah sudahlah, saya bosan melihat kamu. Sekarang kamu saya hokum, sana keluar lalu hormat bendera sampai benderanya balas hormat kamu.”
Bayu            : “Ya pak.” (keluar)
Kabeb         : “Haduhh ada-ada saja halangan ingin melaksanakan pelajaran. Jadi anak-anak ayp kita serius. Dan sekarang kita mulai...” (bel berbunyi) “Kita mulai istirahat, saya mau makan dulu.”
Inggil           : “Haahh akhirnya istirahat. Eh Kuh ada kursus hipnotis 300.000 di Jogja, mau tidak?”
Kukuh         : “Alah paling penipuan.”
Inggil           : “Asli kuhh, kalau saya bohong hantam saja Gusti.”
Kukuh         : “Kenapa Gusti yang dihantam?”
Inggil           : “Karena cuma dia yang tidak akan balas kalau kamu hantam.”
Kukuh         : “Iya ya, tapi dijamin bisa tidak hipnotisnya?”
Inggil           : “Dijamin bisa, kemarin saya sudah coba. Saya suruh ayah saya tatap mata saya lalu ikuti sugesti saya. Akhirnya dia ikuti sugesti saya.”
Kukuh         : “Kamu sugesti apa ayah kamu?”
Inggil           : “Saya sugesti dia supaya jadi belekan. Dan dia jadi belekan.”
Kukuh         : “Itu mah bukan sugesti tapi ketularan belekan kamu.” (bel berbunyi)
Kabeb         : “Nah anak-anak sudah cukup istirahatnya. Sekarang kita mulai pelajaran kita ya.”
Dwi              : (mengetuk pintu) “Maaf pak saya terlambat.”
Kabeb         : “Jam segini kamu baru masuk. Kurang ajar, saya sudah muak,ini sudah yang kedelapan dalam sminggu ini kamu telat. Dasar tukang telat, masuk sekolah telat, masuk angin saja kamu telat. Sudah sekrang lebih baik kamu keluar dari seolah ini, kamu saya DO.”
Dwi              : “Lahh pak jangan lahh, saya kasih tahu ibu saya lho.”
Kabeb         : “Sana terserah saya tidak takut.”
Dwi              : “OK saya panggil ibu saya.” (keluar mencari ibunya)
Kabeb         : “Anak-anak sekarang benar TELADAN Telat Datang Pulang Duluan.”
Narrator     : Dwi kembali datang ke sekolah dan membawa Ibunya seperti yang sudah dia janjikan pada gurunya tadi.
Ibu dwi       : “Jadi bapak yang sudah mengeluarkan anak saya.”
Kabeb         : “Iya, memang kenapa?”
Ibu dwi       : “janganlah pak kita damai saja lahh. Nih saya beri uang damai 500.000.”
Kabeb         : “Ibu pikir saya guru macam apa? Saya ini guru yang bersih dan jujur.”
Ibu dwi       : “Saya tambah uang damainya jadi 1.000.000”
Kabeb         : “Ehh tapi selain saya bersih dan jujur sebenaranya saya juga cinta damai. Jadi uang damainya saya terima.”
Ibu dwi       : (keluar kelas bersama dwi)
Narrator     : Dasar guru murahan, baru dikasih 1.000.000 saja sudah luntur imannya.
Kabeb         : “Diam kamu narrator, nanti saya kasih 500 ribu.”
Narrator     : Ok saya diam
Kabeb         : (keluar kelas sambil menghitung uang)
Kukuh         : (maju ke depan kelas) “Itulah saudara-saudara realitas pendidikan di negara kita. Penuh tindakan yang tidak terpuji bahkan oleh guru.”
Kabeb         : “Diam kamu Kukuh! Nanti saya kasih 200 ribu.”
Kukuh         : “OK saya diam.”
Inggil           : (maju ke depan kelas) “Laknatullah,, orang-orang biadab. Tindakan mereka semua sangatlah tidak terpuji, dengan uang saja iman mereka semua sudah hilang. Dan sangat tidak terpuji karena hanya saya yang tidak dikasih uang di sini.”

                      

contoh drama sekolah sma

BALADA DI SMANSAGRA


Narrator     : Suatu pagi yang cerah gulita, sekitar jam 7 pagi di Smansagra. Ada seorang guru bernama Kabeb yang sedang menggerutu tak keruan, karena sudah jam masuk sekolah anak yang ada di kelas baru satu orang yaitu Kukuh. Jelas saja yang lain tidak di kelas karena ini am masuk sekolah bukan jam masuk kelas.
Kabeb         : “Sudah jam 7 begini anak yang sudah datang baru satu orang. Sekolah macam apa ini, kemarin anak-anak suda saya suruh tiba di sekolah jam 6 pagi. Alhasil mereka sudah tiba di sekolah jam 6 pagi esok harinya. Tapi jam 7 bel berbunyi mereka malah pulang.”
Kukuh         : “Mungkin mereka sedang dalam perjalanan pak.”
Kabeb         : “Rumah mereka itu dekat, harusnya sudah sampai. Dulu rumah saya jaraknya dari sekolah 20km, tapi setengah jam saya sudah sampai.”
Kukuh         : “Wuihh, cepat sekali. Naik apa pak?”
Kabeb         : “Saya jalan kaki lahh. Setengah jam sudah sampai, sampai depan rumah. Sampai sekolah setengah hari.”
Kukuh         : “Hmm saya kira setengah jam sudah sampai sekolah.”
Ingil              : (mengetuk pintu) “Assalamualaikum.. maaf pak terlambat.”
Kabeb         : “Waalaikkum salam, kenapa kamu telat?”
Inggil           : “Sebenarnya tadi jam 6, saya itu sudah sampai sekolah pak.”
Kabeb         : “Terus, kenapa tidak langsung masuk kelas?”
Inggil           : “Tadi kelasnya itu saya cari tidak ada pak.”
Kabeb         : “Kok bisa?”
Inggil           : “Ternyata saya salah sekolah pak. Saya malah masuk ke SMA terbuka.”
Kabeb         : “Ah bohong kamu, di sekitar sini tidak ada SMA terbuka.”
Inggil           : “Oh ada pak, jadi SMA-nya itu masih tanah lapang dan belum dibangun. Itu  namanya Sma terbuka”
Kabeb         : “Halah, pusing saya ngomong sama kamu. Sana duduk.”
Inggil           : “Terimakasih pak.” (duduk disamping Kukuh)
Kabeb         : “Jadi anak-anak, kita mulai saja pelajarannya.”
Bayu            : (mengetuk pintu) “Halo ada orang?.”
Kabeb         : “Huuhhh, ini siapa lagi yang telat... ooh ternyata kamu Bayu. Kenapa kamu telat?”
Bayu            : “Tadi saya minum dulu pak.”
Kabeb         : “Cuma minum kok bisa telat?”
Bayu            : “Karena agar pencernaan saya sehat, minumnya saya kunyah dulun 32 kali agar lembut pak. Dan semakin lama karena saya minumnya satu gentong pak.”
Kabeb         : “Yang dikunyah agar lembut itu makanan, minuman tidak uash dikunyah sudah lembut. Dan biar lebih lembut pas kamu minumanny kamu campur downy.”
Bayu            : “Downy melembutkan pakaian pak bukan minuman. Nanti kalau saya minum malah saya yang jadi lelembut.”
Kabeb         : “Ah sudahlah, saya bosan melihat kamu. Sekarang kamu saya hokum, sana keluar lalu hormat bendera sampai benderanya balas hormat kamu.”
Bayu            : “Ya pak.” (keluar)
Kabeb         : “Haduhh ada-ada saja halangan ingin melaksanakan pelajaran. Jadi anak-anak ayp kita serius. Dan sekarang kita mulai...” (bel berbunyi) “Kita mulai istirahat, saya mau makan dulu.”
Inggil           : “Haahh akhirnya istirahat. Eh Kuh ada kursus hipnotis 300.000 di Jogja, mau tidak?”
Kukuh         : “Alah paling penipuan.”
Inggil           : “Asli kuhh, kalau saya bohong hantam saja Gusti.”
Kukuh         : “Kenapa Gusti yang dihantam?”
Inggil           : “Karena cuma dia yang tidak akan balas kalau kamu hantam.”
Kukuh         : “Iya ya, tapi dijamin bisa tidak hipnotisnya?”
Inggil           : “Dijamin bisa, kemarin saya sudah coba. Saya suruh ayah saya tatap mata saya lalu ikuti sugesti saya. Akhirnya dia ikuti sugesti saya.”
Kukuh         : “Kamu sugesti apa ayah kamu?”
Inggil           : “Saya sugesti dia supaya jadi belekan. Dan dia jadi belekan.”
Kukuh         : “Itu mah bukan sugesti tapi ketularan belekan kamu.” (bel berbunyi)
Kabeb         : “Nah anak-anak sudah cukup istirahatnya. Sekarang kita mulai pelajaran kita ya.”
Dwi              : (mengetuk pintu) “Maaf pak saya terlambat.”
Kabeb         : “Jam segini kamu baru masuk. Kurang ajar, saya sudah muak,ini sudah yang kedelapan dalam sminggu ini kamu telat. Dasar tukang telat, masuk sekolah telat, masuk angin saja kamu telat. Sudah sekrang lebih baik kamu keluar dari seolah ini, kamu saya DO.”
Dwi              : “Lahh pak jangan lahh, saya kasih tahu ibu saya lho.”
Kabeb         : “Sana terserah saya tidak takut.”
Dwi              : “OK saya panggil ibu saya.” (keluar mencari ibunya)
Kabeb         : “Anak-anak sekarang benar TELADAN Telat Datang Pulang Duluan.”
Narrator     : Dwi kembali datang ke sekolah dan membawa Ibunya seperti yang sudah dia janjikan pada gurunya tadi.
Ibu dwi       : “Jadi bapak yang sudah mengeluarkan anak saya.”
Kabeb         : “Iya, memang kenapa?”
Ibu dwi       : “janganlah pak kita damai saja lahh. Nih saya beri uang damai 500.000.”
Kabeb         : “Ibu pikir saya guru macam apa? Saya ini guru yang bersih dan jujur.”
Ibu dwi       : “Saya tambah uang damainya jadi 1.000.000”
Kabeb         : “Ehh tapi selain saya bersih dan jujur sebenaranya saya juga cinta damai. Jadi uang damainya saya terima.”
Ibu dwi       : (keluar kelas bersama dwi)
Narrator     : Dasar guru murahan, baru dikasih 1.000.000 saja sudah luntur imannya.
Kabeb         : “Diam kamu narrator, nanti saya kasih 500 ribu.”
Narrator     : Ok saya diam
Kabeb         : (keluar kelas sambil menghitung uang)
Kukuh         : (maju ke depan kelas) “Itulah saudara-saudara realitas pendidikan di negara kita. Penuh tindakan yang tidak terpuji bahkan oleh guru.”
Kabeb         : “Diam kamu Kukuh! Nanti saya kasih 200 ribu.”
Kukuh         : “OK saya diam.”
Inggil           : (maju ke depan kelas) “Laknatullah,, orang-orang biadab. Tindakan mereka semua sangatlah tidak terpuji, dengan uang saja iman mereka semua sudah hilang. Dan sangat tidak terpuji karena hanya saya yang tidak dikasih uang di sini.”

                      

contoh drama sekolah (8 tokoh)

Jkt
(Jomblo Kandas Tersakiti)


Narrator    : “Suatu hari di Smansagra tepatnya di kelas XI ipa 1 hidup 2 organisme baru berjenis pria. Mereka berdua adalah anggota JKT (Jomblo Kandas Tersakiti). Dalam keseharian mereka, mereka selalu berusaha mencari tambatan hati yang sakti dan pantang menyakiti hati. Dan pada suatu saat di kelas mereka berdua saling curhat.”
Toriq          : “Hey bray gimanay kabarnyay bray?”
Kodir          : “Ayh lebay kamu bray. Lagi galau nih, dari dulu jomblo terus”
Toriq          : “Sama bray  aku juga galau nihh, kita harus cepat-cepat dappat pacar nih bray. Sebelum kelulusan. Memalukan benget bray kalu SMA ga pernah punya pacar.”
Kodir          : “Iya bray, kalau aku nyari pacar yang simple bray. Yang penting menerimaku apa adanya.”
Toriq          : “Yahh, dan sekarang cita-citaku yang pertama ingin punya pacar bray. Dan kalau sudah tercapai aku mau move on ke cita-citaku yang kedua.”
Kodir          : “Apa cita-cita yang kedua?”
Toriq          : “Punya mantan.”
Kodir          : “jadi kamu nyari pacar Cuma biar bisa punya mantan.”
Toriq          : “Iya bray, Karena punya mantan itu keren bray.”
Kodir          : “bukannya kamu sudah punya banyak mantan.? Mantan majikan haha.”
Narrator    : “lalu datanglah dua orang cewek cantik, Muna dan Muni. Sambil ngobrol masalah jerawat.”
Muna         : “ehh jeng Muni, aku lagi ada masalah jerawat nihh, gimana ngilanginnya ya?. Jadi ga PD kalau mau selfi”
Muni          : “owalah sess, kalau itu sih mudah. Sess foto aja lalu edit di Photo Shop, pasti ilang semua jerawatnya. Photo Shop penghilang jerawat paling cepet dehh sess.”
Toriq          : “ehh bray, adaa Muna Muni tuhh, godain yukk. Siapa tahu bisa jodoh.”
Kodir          : “siapp,.. eh Muna, kamu tahu ga?”
Muna         : “ga.. apaan sih kamu, ngrayu aku yaa. Ehh kamu kan sudah punya pacar, itu” (nunjuk Toriq)
Kodir          : “idiih, najis banget., dia bukan pacar aku.”
Muni          : “iya Muna dia bukan pacarnya, tapi suaminya. Haha”
Toriq          : “hehehe makasi ya do’anya (sambil tertawa mengejek)
Muni          : “iddihh siapa juga yang do’a in kamu”
Muna         : “siapa juga yang mau jadipacar kamu”
Toriq          : “di amini aja ngapa?”
Muna dan muni        : (pergi meninggalkan kodir dan toriq)
Toriq          : “dasar cewek somplak kita dikira pasutri, pasangan suami isteri.”
Kodir          : “iyaa,, padahal kita kan pasusu, pasangan suami suami.”
Toriq          : “aku ga trima dir, ita dilecehkan. Kita harus cari cara biar bisa dapat pacar”
Kodir          : “setuju, dan aku puny a ide, kita harus mendatangi dukun cewek terkenal  di cakra”
Toriq          : “oo iya aku tahu, Mbah Ragil kan?. Kalau begitu markitkem mari kita kemon”
Narrator    : “Kodir dan Toriq pun berangkat menuju cakra, gunung didaki laut diseberangi tahi dihinggapi. Dan akhirnya mereka sampai di cakra. Setelah sampai di cakra ternyata kata orang Mbah Ragil sudah pindah ke desa dekat Smansagra. Sehingga mereka harus kembali lagi ke tempat asal mereka. Gunung didaki laut diseberangi tahi di...”
Toriq          : “ehh narrator, sialan kamu. Jangan buat kami susah, baca cerita yang benar dong.”
Narrator    : “dan Toriq pun tiba-tiba meninggal”
Toriq          : (mati tiba-tiba)
Kodir          : “eheh kok mati beneran, heh narato maafin teman saya. Jangan dibunuh dulu dong, nanti saja kalau ceritanya sudah selesai.”
Narrator    : “dan toriq pun hidup kembali. Singkat cerita mereka sudah sampai di rumah mbah Ragil.”
Toriq          : “jadi mbah tujuan kami kemari itu adalahhhh....”
Ragil           : “stop saya sudah tahu maksud dan tujuan kalian.”
Kodir          : “lho hebat, kok bisa mbah.?”
Ragil           : “hahaha, karena saya sudah baca naskahnya.”
Toriq          : “dasar dukun somplak”
Ragil           : “dan tiba-tiba toriq pun meninggal”
Toriq          : “halah ga mempan kamu bukan narrator”
Kodir          : “jadi bagaimana ini mbah supaya kami bisa dapet pacar?”
Ragil           : “ehh, saya kasih tahu yaa. Saya itu dukun, sejak kapan ada dukun punya pacar. Jadi jangan minta tolong saya dong
Kodir          : “hemmm, jauh-jauh kemari ternyata hasilnya nihil.”
Ragil           : “eitss tunggu dulu, tenang saya punya asisten yang jago pacaran. Dia punya pacar lima, Sabrila kemari kamu.”
Vicky          : “hello gentlemen my name is Vicky and I am from birthday in karang asih city, twenty nine my age yaa.”
Kodir          : “jadi Vicky benar kamu punya pacar lima?”
Vicky          : “iya dong, saya punya pacar 5, saya sayang sama mereka dan mereka ga kenal siapa saya. Haha”
Toriq          : “lho terus kok bisa jadi pacar?”
Vicky          : “ya bisa lahh, soalnya saya pakai ini, ramuan pellet dari klinik tong fang.” (menunjukkan botol ramuannya)
Kodir          : “wah mau dong”
Ragil           : “eitttsss nanti dulu,, bayar dulu dong. Bayarnya cukup 5 juta saja.”
Toriq          : “wah cilaka, bayar pakai apa nih dir?”
Kodir          : “pakai cara klasik, kita bobol aja celengan”
Toriq          : “geblek kau, kita kan ga punya celengan”
Kodir          : “kalau gitu, kita cari celengan orang  lalu kita bobol.”
Toriq          : “wah tambah geblek, lebih baik sekarang kita lari dari sini”
Kodir          : “OK..”
Toriq          : “hehe mbah karena kita ga mampu bayar. Jadi peletnya kami ambil lalu kami lari yaaa.”
Ragil           : “ohh ya silahkan, hati-hati ya jangan sampai tertangkap.”
Toriq dan kodir          : (kabuuur)
Vicky          : “loh mbah kok dibolehin kabur, terus bayaran kita bagaimana? Ini ga sesuai sama kontroversi hati aku”
Ragil           : “tenang, nanti kita tagih kalau dramanya sudah selesai.”
Narrator    : “yahh singkatnya toriq dan kodir sudah tiba kembalii di kelas mereka”
Toriq          : “akhirnya sampai juga, sudah ga sabar punya mantan”
Kodir          : “iya, ehh tapi inin cara pakainya gimana? Kita yang minum atau yang dipelet yang minum?.”
Toriq          : “aduhh gimana nihh, ehh itu ada tantri lewat kita Tanya dia aja.”
Kodir          : “eh  tantric kamu tahu cara pakai obat pellet ini ga?”
Tantric       : “obat pellet? Buat melet siapa?”
Toriq          : “melet kamu”
Tantric       : “kurang ajar, emang aku cewek apaan?” (menampar toriq dan kodir)
Toriq          : “aduhh malah ditampar, ya cewek beneran dunk masak cewek jadi-jadian .  Ehh itu ada sally lewat, kita Tanya dia aja?”
Tantric       :”apa sih kamu gak jelas..gak peduli ada selly”
Kodir          : “iya tapi jangan bilang kalau ini buat melet dia”
Toriq&kodir :”suit-suit
Sally           :”(melirik kemereka berdua)”
Tpriq          :”ihh dipanggil malah melirik..
Sally           :”emang kenapa kalau aku melirik,masoleh buat loh…ehh maksutnya masalah dink..haha
Toriq          : “eh sally kamu tahu....”
Sally           : “stop!! Ini obat buat melet aku kan?” (menampar toriq dan kodir)
Toriq          : “aduh ditampar lagi”
Kodir          : “kok kamu tahu?”
Sally           : “karena aku sudah baca naskahnya”
Toriq          : “lebih baik kita menyerah nyari pacar dir”
Kodir          : “iya,, di drama ini kita sengsara.”
Toriq          : “Cuma ini, drama yang naskahnya bocor kemana-mana.”
Kodir          : “iya dasar penulis geblek”
Penulis       : “tiba-tiba toriq dan kodir mati karena telah menghina penulis drama ini.”


Senin, 06 Januari 2014

CERPEN

THE RAPORT

Langit pagi biru menggantung, para makhluk barulah bangun. Embun-embun di pucuk daun masih segar menetes pelan. Cieelah puitis banget, ini kan cerpen romantis komedi .Maunya sih jadi romantis tapi malah jadi komedi. Jadi, para tokoh di cerpen ini ingin sebuah kisah romantis tapi karena kisah mereka sangat mengenaskan kisah mereka jadi komedi untuk orang lain (huhuhu jadi seneng).
Hari ini adalah hari yang biasa tapi spesial, pasalnya hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur akhir semester dua. Di SMA 1 Grabag terlihat banyak siswa baru dari smp mereka masing-masing. Ada seorang anak kaya sombong bernama Alex, dia sangat sombong karena selain dia kaya dia juga ganteng. Tapi di cerpen ini kita tidak akan ngomongin dia. Yang akan kita simak adalah anak-anak kelas dua yang sekarang baru naik dari kelas satu (padahal kelas satu letaknya lebih tinggi dari kelas dua, harusnya kan turun). Anak-anak ini sedang kebingungan mencari kelas baru mereka (walaupun kelasnya udah jelek, tetap saja dibilang kelas baru). Dan kita akan memerhatikan lebih dekat pada dua anak yang kelihatannya paling bingung diantara yang lain. Mereka berdua adalah Rizki dan Rayhan mereka itu kembar cuma beda dikit. Cuma beda ibu beda bapak beda tanggal lahir 2 bulan dan beda nasib, (bedanya dikit kan). Setelah muter-muter mencari akhirnya mereka temukan kelas mereka di XI IPS 1, kelas yang paling pojok dan paling serem (serem baunya karena dekat WC). Mereka dapat meja paling depan dan paling jelek.
“haduh sial Riz, kita dapat meja yang sifatnya kaya puasa kamu, banyak bolongnya Riz..” keluh Rayhan.
“sialan kamu,, udah lah Ray syukurin aja daripada dapat yang bolongnya semua. Lagipula asik kalo banyak bolongnya gini kita bisa main billyard pake gundhu Ray.” Balas Rizki
Lalu  terjadilah percakapan yang ga penting tentang gundhu. Mulai dari tokoh Mahatma Gundhu sampai lagu Gundhu-gundhu pacul mereka omongin semuanya. Setelah cukup lama datanglah wali kelas mereka yang bernama Pak Budi. Pak Budi ini guru Pkn (Pendidikan kenakalan, ohh salah bukan itu). Beliau ini kalau sedang menasehati muridnya suka memakai pasal-pasal dalam UUD (kalau saya lebih suka pasal swalayan sihh). Selanjutnya Pak Budi memperkenalkan dirinya.
“selamat pagi anak-anakku yang berasal dari ibu yang berbeda. Nama saya Budi Waluyo saya wali kelas kalian dan saya mengampu mata pelajaran Pkn. Anak saya dua dan istri saya satu, satu di Magelang, satu di Semarang, satu di Jogja dan satu di rumah. Haha tadi itu hanya bercanda jangan dianggap lelucon, anggap saja tidak serius. OK kalian sudah kenal saya tapi saya belum kenal kalian jadi silahkan saya absen lalu kalian tunjuk atap. Karena ada pepatah tak kenal maka kenalan donk.”
Dasar guru kok bercanda, tapi daripada bercandi kan berat. Pak Budi mengabsen satu persatu sesuai abjad dan sekarang telah sampai ke R.

“ Rayhan Fahrezi?”
“hadir pak” sahut Ray.
“Rizki?”
Rizki tunjuk jari akan tetapi ternyata bukan hanya dia yang tunjuk jaro. Ada seorang cewek yang tunjuk jari saat disebut nama Rizki. Pak Budi melanjutkan absen.
“hmm Rizki Anadila..” teriak Pak Budi untuk memperjelas.
Rizki buru-buru menurunkan tangannya setelah tahu yang dipanggil bukan dirinya. Anak lain tertawa pelan, tapi Ray tertawa sangat keras dambil mengejek Rizki dan Rizki hanya tertunduk malu sambil mengumpat dalam hatinya (sialan,, dasar cewe plagiat bisanya niru nama orang).
Dan dihari itu yang terjadi hanyalah perkenalan-perkenalan dan obrolan ringan sampai bel pulang berbunyi. Pada saat akan berkemas pulang Ray mengajak Rizki nonton konser.
“gimana Riz? Slank ini Riz, band papan atas..”
“tapi Ray besok kan kita sekolah dan kata kamu konsernya jam 10:00,, kita kan masih pelajaran”
“haduh Riz bolos aja, ini Slank Riz, tapi kalo kamu ga mau ga apa lah, tolong besok aku diijinkan yaa.. bilang saja kalo aku sakit Riz.”
“huhh dasar,, bolos kok ijin.. tapi ga apalah daripada aku yang bolos”
Pagi harinya ternyata benar Ray membolos dan Rizki pun juga berniat untuk menepati janjinya pada Ray. Pagi ini pelajaran pertama adalaaah Bahasa Inggris, gurunya Bu Anna guru yang kata anak didiknya terkenal lebih galak dari anjingnya (mungkin di pagar rumahnya terpasang ‘AWAS MAJIKAN LEBIH GALAK DARI ANJINGNYA’). Bu Anna mulai mengabsen dan sampai pada nama Rayhan.
“Rayhan Fahrezi?”
“sakit bu! Tadi ibunya tepon saya” sahut Rizki dan beruntung Bu Anna percaya.
Tiba-tiba dari pintu terdengar suara ketukan lalu masuk seorang wanita.
“permisi bu, saya ibunya Rayhan. Saya kemari ingin memberikan  buku Ray yang tadi ketinggalan di rumah..” kata Ibu Ray
Bu Anna langsung menatap Rizki dengan pandangan sinis lalu berkata
“jadi Rizki,, Rayhan sakit apa?” tanya Bu Anna
Dalam hati Rizki berkata
‘aduhh sial ini pasti kena marah Bu Anna sama ibunya Ray,, haduuh bohong bikin rempong’

mungkin kalian masih bingung kenapa cerpen ini saya kasih nama ‘The Raport’. Naah saya akan kasih tahu,,.. Ups maaf Cuma bercanda, kalian cari tahu saja sendiri karena cerpen ini akan memiliki kelanjutannya.. JADII
TO BE CONTINYUSSSS



Jumat, 13 Desember 2013

drama

BALADA DI NEGERI ORIGATO

Di suatu tempat terdapat sebuah  kerajaan bernama Origato dan rajanya yang bernama Origami.Origami memiliki dua anak, anak pertama bernama Toyota dan anak kedua bernama Thosiba. Origami adalah raja yang penyakitan, setiap bulan dia kena penyakit baru yang aneh-aneh. Bulan lalu dia kena sariawan di ketiak, sehinggga tiap kali ketiak dia keringetan selalu tersa sakit. Karena keringat ketiak itu mengandung zat asam yang sangat tinggi. Dan tahu sendiri kan kalo sariawan itu paling akit kalo kena yang asam-asam. Dan bulan ini dia kena cacar banjir, itu adalah lelanjutan dari penyakit cacar air yang sudah akut. Origami merasa hidupnya tidak akan lama lagi kehabisan masa aktif lalu mati. Karena itu dia memanggil pelayannya yang bernama Suzuki untuk membagi waris kepada kedua anaknya
Di kamar Origami bersama Suzuki
Origami : “Suzuki kemari kamu, mendekatlah!”
Suzuki    : “Ya tuanku, ada yang bisa saya bantai? Maaf kesalahan teknis tuanku ada yang bisa saya bantu?”
Origami  : “Aku merasa umurku tidak akan lama lagi, kurasa aku akan segera mati. uhuk uhuk” (batuknya lebay kaya sinetron)
Suzuki    : “Tunggu palgi tuanku cepat mati saja mumpung minggu ini ga ada yang mati. jadi yang melayat kan banyak tuan.”
Origami  : “Sembarangan kamu, minggu ini itu ada raja Nenggolan yang mati”
Suzuki    :“Kematian dia ditunda tuan, kemarin kan tuan sudah di sms sama sekretarisnya”
Origami  : “Iya tapi kan yang baca kamu saya belum baca Hp-nya sudah kamu minta.”
Suzuki    : “Maaf tuan kemarin saya lagi ingin sms-an sama dia jadi langsung saya minta Hp-nya., kami udah deket lho”
Origami  : “Ternyata kamu bodohnya dua kali. Pertama, kamu bodoh karena udah ngabisin pulsa saya. Kedua, kamu bodoh karena sekretaris itu kan cowok. Mau tetep diembat.?”
 Suzuki       : “Ah ga mungkin. Dia pasti cewek tuan, namanya aja Sumi kok.”
Origami : “ Iya nama dia emang Sumi. Tapi itu Cuma nama pendek, nama paanjangnya itu Sumitroooooooooooo.”
Suzuki        : “O-nya harus panjang begitu ya kalo nyebut dia?”
Origami  : “Iya dong.. kan itu nama panjang jadi harus panjang.”
Suzuki        : “Kok tuan bisa tahu kalo dia cowok? Dia kan asisten baru dan tuan belum pernah ketemuu.”
Origami  : “Sebelum kamu, saya itu sudah jadi korban dia. Sudah 2 mobil saya kasih buat dia. Tapi dia kembalikan.”
Suzuki        : “Yang benar tuan? Mobil yang mana?”
Origami  : “Itu lho mobil yang ada di garasi nomer 3.”
Suzuki        : “Yang di garasi nomer 3 kan mobil jenazah semua tuan. Pantas saja dikembalikan. Tuan ini aneh-aneh saja”
Origami  : “Heh saya ini sudah tua. Nanti kalo saya jalan-jalan sama dia pake mobil jenazah kan praktis. Jadi gak repot nelpon kamu.”
Suzuki     : “Tahu sudah tua kenapa masih jala-jalan ke taman hiburan? Harusnya tuan itu jalan-jalannya ke taman pemakaman biar lebih praktis.”
Origami  : ( Tiba-tiba kejang-kejang dan muncul busa dari mulutnya)
Suzuki        : “Aduh, tuan kenapa tuan? Tadi makan sabun ya? Kan sudah saya bilang kalo cuci perut itu pake obat bukan pake sabun!”
Origami  : “Saya lagi sekarat bodoh. Cepat panggil dokter!”
Suzuki        : “Dokter..! Dokter..!! ” ( beberapa menit)
Suzuki        : “Kayanya dia ga dengar tuan”
Origami  : “Maksud saya itu ditelpon bodohh.! Jarak dia itu kan 12 Km, masa kamu panggil”
Suzuki        : (menelpon dokter)
Beberapa saat kemudian dokter datang dengan masih memakai pakaian tidur. Karena Suzuki menelpon saat dia masih tidur, dia masih tidur karena tadi malam sibuk lembur mengoperasi pasien dengan metode operasi Aljabar.  Metode operasi yang paling sulit.
Dokter        : (mengetuk pintu dengan lembut sambil menguap karena masih ngantuk)
Suzuki        : (mempersilakan masuk)
Origami  : (membaca papan nama dokter) “Tokomura?” (memanggil Suzuki lalu membisikinya) “Kamu itu kurang ajar yaa,, dia itu kan dokter hewan peliharaan saya”
Suzuki     : “Maaf tuan, dokter yag lain sedang demo naik pangkat jadi suster. Lagipula  saya sering dengar permaisuri memanggil tuan babi”
Origami  : “Bukan babi bodoh, tapi baby. Karena dia lulusan SD jadi nyebutnya babi”
Dokter        : (tertawa kecil lalu mendehem) “Ehemm, jadi keluhannya apa tuan?”
Origami  : “heh kamu itu dokter hewan. Mana bisa mengobati saya?”
Dokter        : “Tenang tuan, saya perna satu kali mengobati orang”
Origami  : “Siapa orang yang kamu obatin”
Dokter        : “orang utan”
Origami  : (tambah kejang dan busa yang keluar dari mulutnya tambah banyak, membuat dokter dan Suzuki panik)
Dokter        : “Aduh gawat! Lebih baik langsung saya suntik saja” (menyuntik raja)
Origami  : (sembuh dengan seketika)
Suzuki        : “wuihh hebat anda, raja saya langsung sembuh. Memang tadi disuntik apa?” (menepuk pundak dokter)
Dokter        : “suntik rabies” (menunjukkan suntikannya)
Origami  : (langsung mati dengan seketika, membuat Suzuki dan dokter panik lagi)
Suzuki    : “haduhh gimana ini? Raja?  Raja?  Raja beneran mati ya? Masak ga ada kata-kata terakhir? Harusnya kan ada kata-kata terakhir,,  yah wassalamualaikum gitu atau cukup sekian dan terimakasih. Itu kan kata-kata terakhir yang gampang raja. Masa ga sempet?”
Origami  : “heh sebenarnya saya itu punya kata-kata terakhir buat kamu, tapi berhubung saya sudah mati jadi saya ga bias bilang. Dan lagi, saya punya surat wasiat untuk kedua anak saya dan mau saya serahkan sendiri rencananya. Tapi berhubung saya sudah mati jadi lebih baik kamu saja yang menyerahkannya ya! Suratnya ada di laci meja sana” (menunjuk meja kerjanya)
Suzuki    : (membuka laci mejanya lalu mencari surat wasiat raja) “raja? Hmm suratnya yang amplop warna cokelat atau hitam?”
Origami  : “yang warna coklat”
Suzuki    : “kalau yang warna hitam apa?”
Origami  : “ yang warna hitam itu bukan amplop bodoh! Itu taas kresek isinya bangkai tikus yang mati kena supertrap”
Suzuki    : “ee raja! Kalo amplop yang warna putih?”
Origami  : “itu bukan amplop, itu tas kresek warna putih.. sudah, kamu ini ganggu saya saja.”
Suzuki    : “lho emang raja mau ngapain?”
Origami  : “saya itu mau mati! Dari tadi ga jadi mati,, kamu ganggu saya teruss sihh”
Dokter    : “ee tunggu,, jangan mati dulu raja! Kalo raja mati terus yang bayar saya siapa?”
Origami  : “haduhh,, kamu itu ganggu juga, kamu itu sudah bikin saya mati kenapa masih minta bayar sama saya? Itu minta saja sama yang manggil kamu..” (menunjuk Suzuki   lalu mati khheeeek)
Dokter    : “ nahh sini mana bayaran saya? 5 juta”
Suzuki    : “ mahal amat!! Masak cuma suntik gituan bayarnya 5 juta?”
Dokter    : “ asal kamu tahu ya.. obat saya ini kalo diminum orang sakit, sakitnya itu langsung ga kerasa”
Suzuki    : “ ah ga mungkin, masa Cuma minum itu saya langsung sembuh”
Dokter    : “siapa bilang kamu akan sembuh? Setelah minum ini kamu itu akan langsung mati”
Suzuki    : “katanya sakitnya langsung hilang? Masa malah mati.”
Dokter    : “ lho kalo mati kan sakitnya hilang.. bener kan obat saya bikin sakit langsung hilang?”
to be continyussss


puisi


LAUT

Laut itu biru, langit juga biru
Tapi laut tak pernah jadi abu-abu
Laut itu luas,  jauh berbatas
Menelan ikan berenang bebas
Ombaknya berlarian
Berlari mencium pantai
Kadang pecah menghantam karang
Membawa kapal mengapung tenang
Lalu sore datang
Sutra jingga membalut mesra

Bulan hadir bersama bintang
Laut tetap tak bisa tenang